Saya pernah terlibat suatu obrolan dengan rekan-rekan dosen. Salah satu dosen muda menceritakan bertapa ia ngefans dengan aktor-aktor asal k***a yang ganteng-ganteng. Tiba-tiba salah satu teman saya yang lain menukas: "Halah seganteng-gantengnya dia pun kalau kentut tetap bau !". Tawa kami pun pecah bersamaan.
Maaf, bukannya saya meremehkan aktor-aktor tersebut (maaf ya kalau ada yang tersinggung), tetapi guyonan itu sebenarnya menyiratkan bahwa seganteng-gantengnya, secantik-cantiknya seseorang, mereka tetaplah manusia. Manusia biasa yang makan, minum, ke toilet, dan kadang-kadang juga melakukan hal-hal yang tidak jauh beda dengan kita.
Inilah tips yang bisa kamu gunakan bila merasa takut menghadapi lawan. Seringkali kita merasa takut pada lawan karena badannya lebih besar, tekniknya lebih bagus, jam terbangnya lebih tinggi, posturnya lebih tinggi, dan sebagainya. Padahal, sebaik-baiknya lawanmu dia manusia juga, kenapa harus takut?
Ada nasihat seperti ini; lha wong sama-sama makan nasi, kenapa harus takut. Lho, itu kalau sama-sama makan nasi, kalau menghadapi dari luar negeri yang makan roti bagaimana? Jadi bisa diganti juga begini: lha wong sama-sama manusia, kenapa harus takut? Lawanmu juga pergi ke toilet, juga ngupil, juga kentut, dan mungkin dulu juga sering dimarahi pelatihnya, dan juga pasti pernah gagal, dan pasti pernah menangis waktu TK, dan juga pasti pernah melakukan hal-hal konyol yang tidak jauh beda dengan yang kamu lakukan, lalu kenapa harus takut ?
kalau masih merasa takut, bayangkan saja seperti ini: Lawanmu sedang antri di depan toilet, sakit perut. Tetapi, pintu toiletnya tidak membuka-buka. Lawanmu mondar-mandir menunggu sambil meringis memegangi perutnya, lalu menggedor-gedor pintu. Ternyata saat pintu dibuka, yang keluar adalah seorang wasit atau juri yang tampangnya sangar.... dengan membayangkan ini, image lawanmu bisa hancur berantakan, minimal kamu bisa lebih rileks dan menerima bahwa lawanmu juga manusia.
Intinya, kalau takut terhadap lawan, jangan lupakan fakta bahwa lawanmu juga manusia. Kalau masih sulit, bayangkan hal-hal lucu seperti diatas saja. supaya imejmu tentang lawanmu itu hancur berantakan,..... tapi jangan sampai senyum-senyum sendiri, ya... dan jangan dilakukan sejenak sebelum bertanding, karena bisa merusak konsentrasi. Lakukan semalam sebelumnya, atau beberapa jam sebelum bertanding. Kalau kamu tidak merasa takut, bersyukurlah, teknik diatas tidak perlu dilakukan,...
Minggu, 24 Juni 2012
“Emangnya Kamu Siapa ?” – Atlit harus punya identitas diri
"Emangnya lo siapa?"
Kalau mendengar komentar seperti itu dari
orang lain, bayangkan bagaimana perasaan anda ? Merasa diremehkan ? Terhina?
Marah? Atau alih-alih anda merasa rendah diri, kemudian menghindar ? Atau
tiba-tiba merasa tidak percaya diri?
Pertanyaan “Emangnya kamu siapa” sebenarnya sering terjadi
ketika seorang atlit baru berlatih atau bertanding. Contohnya saat awal berlatih.
Pasti ada cerita dimana anda yang masih atlit baru diplonco oleh atlit-atlit
yang lebih senior. Atau, seorang atlit pemula yang diremehkan olah lawan karena
belum punya nama. Menyebalkan bukan kalau menemui situasi tersebut ? Tetapi yang lebih menyedihkan lagi, kalau kamu malah merasa ragu, "oh ya, emangnya gue siapa ya?"... lalu menjadi rendah diri.
Oleh karena itu, perlu bagi seorang atlit untuk menunjukkan
dirinya “Ini lho saya!”. Tentu saja
tidak dengan membusungkan dada di depan rekan-rekan setim atau lawan, tapi
melalui pembuktian kemampuan, ketekunan berlatih, berperilaku baik layaknya
seorang olahragawan dan juga menghormati
orang lain. Karena itu, atlit-atlit muda yang masih baru sebelumnya harus
punya identitas yang jelas, siapa dirinya. Siapa orang yang mengatakan “saya”
itu. Ini bukan tentang nama atau identitas yang ada di KTP, tetapi tentang “orang
seperti apa saya itu”.
tapi, bagaimana caranya mengetahui jati diri, atau memiliki identitas diri yang baik untuk berprestasi?
Nah, sekarang jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini di
selembar kertas;
·
- Apa nama lengkapmu ?
- Apa sifat-sifat baik yang kamu miliki?
- Apa kekurangan –kekurangan yang kamu miliki ?
- Apa yang sering dikatakan pelatih tentang kamu ?
- Apa yang sering dikatakan rekan-rekanmu tentang kamu ?
- Apa keunggulanmu dalam olahraga menurut pelatih/rekan-rekan setim ?
- Apa teknik yang paling kamu kuasai ?
- Kalau mendengar namamu, apa yang dipikirkan lawanmu tentang kamu ?
- Kalau mendengar namamu, bagaimana sikap lawan-lawanmu ? Apakah mereka meremehkan kamu, memperhitungkanmu sebagai lawan seimbang, atau malah takut padamu?
Sekarang, jawab
pertanyaan berikut ini di selembar kertas, di bawah jawaban pertanyaan
sebelumnya.
·
- Apa nama lengkapmu ?
- Apa sifat-sifat baik yang ingin kamu miliki?
- Apa kekurangan –kekurangan yang ingin kamu perbaiki?
- Apa yang ingin kamu dengar dari pelatih tentang kamu ?
- Apa yang ingin kamu dengar dari rekan-rekanmu tentang kamu ?
- Apa keunggulanmu dalam olahraga ini ?
- Apa teknik yang ingin kamu kuasai ?
- Kalau mendengar namamu, kamu menginginkan lawanmu berpikir bagaimana ?
- Kalau bertemu denganmu, kamu menginginkan lawanmu bersikap seperti apa ?
Sekarang bandingkan jawaban-jawaban pertanyaan bagian pertama
dan jawaban-jawaban pertanyaan bagian kedua.
Apakah banyak bedanya? Kalau baganya bedanya, berarti masih
ada ketidaksesuaian antara jati dirimu dengan kenyataan yang kamu alami
sehari-hari. Kamu masih harus melakukan berbagai usaha untuk membuatnya sesuai.
Berlatih lebih tekun, berlatih lebih rajin, dan sebagainya. Kamu harus lebih percaya diri untuk menunjukkan kemampuanmu. Kalau tidak, bagaimana mereka tahu kemampuanmu yang sebenarnya? Kamu juga harus memberianikan diri berdialog dengan pelatih untuk meminta saran-saran teknis. Kalau tidak, bagaimana mereka bisa menolongmu? Kalau ketidaksesuaian
ini sangat besar, kamu akan lebih mudah mengalami stress, karena kenyataan
tidak sesuai dengan harapan.
Kalau perbedaanya
tidak terlalu besar, jati dirimu sudah mulai jelas. Tetapi, tidak boleh cepat
puas dahulu. Di atas langit ada langit, kamu harus terus tekun berlatih untuk
mencapai prestasi yang lebih tinggi. Tetapi, kamu sudah punya modal identitas
diri yang cukup baik untuk menapaki perjalanan sebagai atlit.
Jadi, jangan sampai anda merasa terintimidasi dengan
pertanyaan “Emangnya lo siapa?”. Jawab dengan perbuatan, jawab dengan prestasi
! Buat lawanmu memahami bahwa namamu adalah nama yang tidak boleh diremehkan.
Minggu, 15 April 2012
Apakah saya sudah berlatih keras atau belum ?
Kata orang bijak, untuk mencapai keberhasilan harus bekerja keras.Kata tokoh-tokoh olahraga, untuk mencapai kemenangan harus berlatih keras.
Kalimat diatas tidak asing sama sekali, malah mungkin kita sudah berkali-kali mendengar.
Pelatih, manajer, pengurus, senior, mantan atlit (termasuk saya) sering bilang begitu.
Tetapi latihan anda sebenarnya sudah cukup keras atau belum ?
pasti ada pikiran seperti itu kan, hehehe...
bagaimana caranya mengira-ngira apakah latihan anda sudah cukup keras atau belum untuk juara ?
saya ada cara, yang objektif maupun yang subjektif.
cara objektif adalah menggunakan ukuran-ukuran nyata. Ini yang mudah.
pertama, untuk menguasai suatu teknik, dalam penelitian tentang "deliberate practice", yaitu penelitian tentang lamanya latihan yang harus dilakukan untuk menjadi seorang jenius dalam bidang apa saja. Ternyata untuk menjadi unggul atau jenius dalam suatu bidang, setidaknya anda harus melewati minimal 10.000 jam latihan.
(kalau tidak percaya silahkan beli buku Outliers di Gramedia, ditulis oleh Malcolm Gladwell, ada bab yang judulnya Kaidah 10.000 jam dan kesuksesan Beatles, jangan khawatir itu buku dalam bahasa Indonesia kok).
kedua, anda bisa secara sadar membandingkan catatan prestasi diri sendiri dengan rekan rekan atau lawan anda. Ini akan sangat mudah bila yang anda lakukan adalah cabang olahraga terukur. Di Nasional yang juara pertama berapa catatan waktunya, berapa skornya, nah, catatan waktu saya, catatan skor saya masih berapa? ada di posisi mana saya sekarang ini ? lalu apa yang harus saya lakukan untuk mendekati skor itu ?
ketiga, anda bisa tanya pelatih. ngobrol, minta evaluasi objektif. apa kekuranganmu, apa keunggulanmu, lalu apa yang harus diperbaiki atau ditambah. Atau, anda bisa juga minta sumbangsaran dari sumber-su,ber lain, misalnya mantan atlet, senior, rekan yang lebih berprestasi, dsb,....
tiga cara diatas masih cara yang objektif, bro.
Lalu ada cara yang subjektif, untuk mengukur apakah latihan anda sudah cukup benar dan keras untuk menjadikan anda juara atau tidak.
caranya adalah, luangkan waktu pada malam hari untuk menutup mata sejenak di tempat yang tenang. Kalau punya, anda bisa pasang musik yang membuat santai, misalnya musik klasik (pokoknya yang tanpa lirik).
Lalu bayangkan anda melakukan suatu gerakan dalam cabang olahraga anda. Bayangkan secara detil, sampai ke gerakan otot-otot, bahkan gerakan yang paling detil sekalipun. bayangkan sejelas mungkin.
kalau anda bisa membayangkan dengan jelas, anda berada di jalan yang benar. Latihan teknik yang anda lakukan sudah mulai menyatu dengan diri anda, tinggal meningkatkannya dan menambah pengetahuan tentang strategi untuk mencapai prestasi yang diinginkan.
Tetapi kalau anda belum bisa membayangkan dengan jelas dan detil, atau bayangan itu rasanya seperti berkelebat dengan cepat, artinya latihanmu masih kurang, bro !
Atau kalau bayangan itu menunjukkan teknik yang masih gagal,....artinya latihanmu masih kurang. Misalnya bila kamu membayangkan melakukan lemparan 3-poin dalam basket dan yang terjadi adalah--dalam pikiranmu--tembakan itu meleset tidak masuk keranjang, artinya latihan 3-poinmu masih kurang !! Belum benar, kurang repetisi (kurang diulang-ulang).
Atau kalau anda sulit sekali membayangkannya, berarti latihanmu masih sangat kurang ! Boro-boro mikir teknik, bisa jadi anda juga sulit berkonsentrasi dalam latihan, sehingga teknik itu hanya anda gerakkan tanpa kesadaran, sehingga tidak tertanam dalam otak dan otot.
Apa yang dibayangkan dalam pikiran manusia selalu konsisten dengan dunia nyata. Semakin terasah sebuah teknik, semakin mudah, semakin jelas dan semakin detil bayangan dalam pikiran. Sebaliknya, teknik yang kurang dilatih akan sulit untuk dibayangkan secara jelas.
Anda bisa melakukan visualisasi atau latihan imajiner melakukan ini itu, teknik ini itu, tapi itu hanya akan menjadi bayangan atau latihan yang tak berguna kalau di dunia nyata latihanmu belum cukup membentuk teknik.
Jadi kalau belum bisa membayangkan dengan jelas, artinya latihan masih kurang ! latihan yang kamu lakukan belum termasuk keras.
Latihanlah dengan keras, ulang-ulang teknik sampai kamu bisa membayangkannya dengan jelas dalam mata tertutup.
lakukan itu dulu, sebelum membayangkan meraih juara.
bukankah keberhasilan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil ?
Kamis, 12 April 2012
Sport is Not Build Character, They REVEAL IT
Olahraga tidak membangun karakter, tapi mengungkapkannya.

Olahraga menajamkan pikiran manusia untuk fokus, seperti sinar matahari yang membakar.

menakan, mendiring, mengembangkan kemampuan manusia hingga batas tertinggi
lebih kuat, lebih cepat, lebih pintar,
hingga melebihi kemampuan diri sendiri

olahraga membuatmu belajar bagaimana beraksi di bawah tekanan,
ketika semua mata tertuju padamu,

tetap bersemangat ketika semua meremehkanmu,
olahraga mengajarkan persaingan dalam cara-cara yang adil,

bekerjsama dalam cara terbaik,

menyatukan visi mencapi tujuan,

dan meraih kemenagan.

Olahraga mengajarkanmu mengenal diri sendiri dan orang lain,

dan juga berbagi perasaan, sedihm susah dan senang bersama mereka,

dan juga memberikan perasaan ekstase yang kaukenang seumur hidup

... yang dikemudian hari dapat menginspirasi orang lain.
Oalahraga tidak membangun karakter.
Semua orang telah memiliki karakter.
Olahraga mengungkapkannya,
mengasahnya,
menjadikannya luar biasa.
I am proud to be athlete.

Olahraga menajamkan pikiran manusia untuk fokus, seperti sinar matahari yang membakar.

menakan, mendiring, mengembangkan kemampuan manusia hingga batas tertinggi
lebih kuat, lebih cepat, lebih pintar,
hingga melebihi kemampuan diri sendiri
olahraga membuatmu belajar bagaimana beraksi di bawah tekanan,
ketika semua mata tertuju padamu,
tetap bersemangat ketika semua meremehkanmu,
olahraga mengajarkan persaingan dalam cara-cara yang adil,

bekerjsama dalam cara terbaik,

menyatukan visi mencapi tujuan,

dan meraih kemenagan.

Olahraga mengajarkanmu mengenal diri sendiri dan orang lain,

dan juga berbagi perasaan, sedihm susah dan senang bersama mereka,

dan juga memberikan perasaan ekstase yang kaukenang seumur hidup

... yang dikemudian hari dapat menginspirasi orang lain.
Oalahraga tidak membangun karakter.
Semua orang telah memiliki karakter.
Olahraga mengungkapkannya,
mengasahnya,
menjadikannya luar biasa.
I am proud to be athlete.
Motivasi -- Bahan Bakar terkuat dan Jenis-jenisnya
Banyak orang bicara tentang motivasi.
Katanya, motivasi itu penting untuk meraih kesuksesan.
Sayangnya, saya tidak sepenuhnya setuju.
Kesuksesan seseorang itu tergantung pada jenis motivasi apa yang melatarbelakanginya.
Kalau bahan bakar tubuh manusia untuk beraktivitas adalah makanan, maka bahan bakar psikis manusia adalah motivasi.
Semakin tinggi motivasi, semakin bersemangat ia, semakin giat aktivitasnya.
Kalau atlit, semakin giat berlatihnya. Semakin giat bertandingnya.
dan jelas, ini berhubungan dengan prestasi atau keberhasilan.
Menurut saya, motivasi adalah bahan bakar.
Sebagaimana mobil harus melaju dengan cepat, ia harus diisi bahan bakar bensin.
Bensin pun kualitasnya macam-macam, ada yang bensin campur yang dijual di pinggir jalan, ada premium, ada yang cukup mahal seperti pertamax, sampai ada bensin khusus untuk kendaraan super kelas formula satu seperti menthanol atau avtur (bensin pesawat).
Jadi, keberhasilan seseorang juga tergantung bahan bakar atau bensin apa yang ia pakai.
Atau, keberhasilan seseorang tergantung pada jenis motivasinya.
Dalam olahraga, ada banyak teori motivasi. Motivasi menurut berolahraga menurut Martens, 3 kebutuhan dari McClelland, hierarki motivasi Maslow, basic need Herzberg, Self-Determination Theory dari Ryan & Deci... banyak sekali, tapi saya tidak akan menjelaskan semuanya disini. Saya hanya akan mengelompokkan motivasi berdasarkan bahan bakarnya saja, yang saya adaptasi dari Self-Determination Theory -nya Ryan & Deci. Anda yang pingin tahu lebih jauh teori ini bisa mengklik wikipedia. http://en.wikipedia.org/wiki/Self-determination_theory.
inilah jenis-jenis motivasi, bahan bakar itu. Mulai yang paling murah sampai yang paling berkualitas.
pertama, Motivasi Eksternal.

Kalau anda berlatih karena ada imbalan dari luar. Imbalan itu tidak hanya bersifat materi seperti uang saku, beasiswa, gaji, tetapi juga bisa bersifat imaterial seperti pengakuan, penghargaan, pujian dari pelatih, atau sekedar memenuhi keinginan orang-orang di sekitar anda.
Ini bahan bakar paling murah.
Iming-iming bonus, fasilitas dan gaji digunakan untuk merangsang motivasi, tapi itu baru motivasi paling rendah. Dikagumi dan dihargai banyak orang bisa menjadi motovasi, tapi bukan motivasi terkuat, justru motivasi masih paling rendah levelnya, alias bahan bakar paling murah.
Mengapa? karena apabila hal-hal yang sifatnya eksternal itu hilang, maka hilanglah semangat anda berlatih. Pelatih tidak ada, penghargaan tidak ada, pengakuan tidak ada, orang-orang tidak mendukung, tidak ada gaji atau uang saku, anda tidak semangat, anda berhenti berlatih. selesai. End.
Padahal, dunia olahraga adalah dunia yang keras bukan? anda tidak hanya dipuji-puji tapi juga harus siap dikritik, dicaci maki bahkan dihina. Dan tidak semua atlit dimanjakan oleh fasilitas latihan dan uang saku. Butuh pengorbanan dan perjuangan keras untuk mencapai keberhasilan, yang itu tidak hanya ditentukan semata-mata oleh iming-iming materi atau pujian.
jadi bahan bakar apalagi yang lebih kuat? motivasi apalagi yang lebih baik?
kedua, bahan bakar yang disebut Introjeksi,
Sedikit lebih baik dari bahan bakar sebelumnya, pada tingkat ini anda sudah merasa bersalah kalau tidak berlatih. Rutinitas belatih sudah menjadi kebutuhan, sudah menyatu dengan diri anda, sehingga anda merasa tidak enak atau merasa bersalah kalau tidak melakukannya. Anda bisa tetap berlatih meskipun tanpa pelatih, meskipun tidak digaji, dsb. Karena anda merasa harus melakukannya, kalau nggak, nggak enak di badan. Terasa seperti ada yang kurang, terasa seperti tidak lengkap.
Bolehlah saya katakan ini baru bahan bakar solar. Masih yang agak murah, tapi cukup kuat juga, dan lebih baik daripada yg merek eksternal di atas. setidaknya anda mulai latihan bukan karena faktor eksternal, tapi karena untuk memuaskan rasa "tidak enak" atau "rasa bersalah" yang melanda diri anda.
jadi, apalagi yang lebih baik dari solar ?
Ketiga, bahan bakar yang disebut Identifikasi.

Ketika latihan sudah menyatu dengan diri anda, dan anda melakukannya untuk kebutuhan, dan anda merasa menemukan jati diri anda disitu, anda memiliki motivasi pada tingkat ini. Disini anda berlatih dengan alasan "saya berlatih, karena inilah diri saya, inilah jati diri saya". Tidak hanya anda berlatih secara mandiri, tapi anda juga menyadari ini adalah sebuah tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Anda sudah memiliki arah atau tujuan yang ingin diraih, dan mengatur strategi untuk meraihnya .
Ini baru kelas premium, lumayan bagus untuk jalan kenceng.
Ada yang lebih baik lagi ?
keempat, ada yang namanya Stimulasi.

anda berlatih, bertanding karena anda merasa sangat menikmatinya, senang terlibat di dalamnya. Senang mereguk pengalaman-pengalaman itu, yang memberikan sensasi tak telupakan pada diri anda. Pengalaman ini memberikan sedkit rasa "kecanduan", sehingga anda ingin terus menerus melakukannya, tak peduli anda menang, kalah, atau bagaimana. karena ini menyenangkan, karena ini membuat saya bergairah, karena itu aku ingin terus melakukannya, titik.
Boleh saya menyebut ini kelas pertamax ?
lalu apakah ada yang lebih baik lagi ? masih ada !
kelima, ada motivasi yang namanya Meraih Tujuan, atau Accomplish.
selain anda terbiasa, memiliki jati diri sebagai atlit, perilaku anda bertanggung jawab, dan juga karena senang melakukannya, anda juga punya tujuan pasti tentang apa yang ingin anda raih. Tujuan yang tinggi, cita-cita yang tinggi. Sesuatu, atau prestasi yang luhur yang punya makna mendalam bagi diri anda yang anda berusaha sungguh-sungguh untuk meraihya. tujuan yang tinggi ini bukan hanya posisi tertentu (misalnya peraih medali emas olimpiade), tetapi juga suatu kemampuan (misalnya mencetak rekor) atau suatu karya (misalnya menjadikan basket sebagai olahraga favorit remaja, memasyarakatkan olahraga pencak silat, mengharumkan nama bangsa lewat permainan sepakbola yang fair,dsb ). Tujuan yang tinggi ini bukan hanya mengarahkan anda pada prestasi, tetapi pada sesuatu yang melebihi diri anda sendiri. Sesuatu yang menantang anda untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri anda.
ini kelas formula satu.
tetapi ada satu motivasi lagi yang lebih baik dari ini.
motivasi tertinggi, yang bisa membuat anda terbang tinggi.
Motivasi kelima, adalah motivasi Belajar.

haus akan ilmu, berusaha untuk mengevaluasi dan terus menerus memperbaiki diri, menguasai keterampilan baru, menemukan teknik-teknik dan strategi baru, itu adalah motivasi yang tertinggi. Motivasi ini yang membuat manusia terus menerus berkembang tanpa batas. Motivasi ini yang memastikan seseorang tidak akan menyerah ketika ia gagal, jatuh, atau terhambat. Motivasi ini juga yang membuat seorang atlit kebal terhadap rasa sombong, tinggi hati, atau putus asa menghadapi hambatan apapun. Alih-alih, motivasi ini yang akan terus mengembangkan kemampuannya hingga tingkat yang tidak terduga. Motivasi ini tidak hanya menjamin kemampuan seorang atlit menjadi lebih baik, tetapi juga memeberikan pengaruh yang baik kepada sesamanya.
inilah motivasi tertinggi. Selalu ingin belajar.
merasa tidak pernah cukup, seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk.
jadi, bahan bakar motivasi apa yang anda pakai saat ini ?
silahkan renungi dan anda bisa berganti motivasi setiap saat !
Katanya, motivasi itu penting untuk meraih kesuksesan.
Sayangnya, saya tidak sepenuhnya setuju.
Kesuksesan seseorang itu tergantung pada jenis motivasi apa yang melatarbelakanginya.
Kalau bahan bakar tubuh manusia untuk beraktivitas adalah makanan, maka bahan bakar psikis manusia adalah motivasi.
Semakin tinggi motivasi, semakin bersemangat ia, semakin giat aktivitasnya.
Kalau atlit, semakin giat berlatihnya. Semakin giat bertandingnya.
dan jelas, ini berhubungan dengan prestasi atau keberhasilan.
Menurut saya, motivasi adalah bahan bakar.
Sebagaimana mobil harus melaju dengan cepat, ia harus diisi bahan bakar bensin.
Bensin pun kualitasnya macam-macam, ada yang bensin campur yang dijual di pinggir jalan, ada premium, ada yang cukup mahal seperti pertamax, sampai ada bensin khusus untuk kendaraan super kelas formula satu seperti menthanol atau avtur (bensin pesawat).
Jadi, keberhasilan seseorang juga tergantung bahan bakar atau bensin apa yang ia pakai.
Atau, keberhasilan seseorang tergantung pada jenis motivasinya.
Dalam olahraga, ada banyak teori motivasi. Motivasi menurut berolahraga menurut Martens, 3 kebutuhan dari McClelland, hierarki motivasi Maslow, basic need Herzberg, Self-Determination Theory dari Ryan & Deci... banyak sekali, tapi saya tidak akan menjelaskan semuanya disini. Saya hanya akan mengelompokkan motivasi berdasarkan bahan bakarnya saja, yang saya adaptasi dari Self-Determination Theory -nya Ryan & Deci. Anda yang pingin tahu lebih jauh teori ini bisa mengklik wikipedia. http://en.wikipedia.org/wiki/Self-determination_theory.
inilah jenis-jenis motivasi, bahan bakar itu. Mulai yang paling murah sampai yang paling berkualitas.
pertama, Motivasi Eksternal.

Kalau anda berlatih karena ada imbalan dari luar. Imbalan itu tidak hanya bersifat materi seperti uang saku, beasiswa, gaji, tetapi juga bisa bersifat imaterial seperti pengakuan, penghargaan, pujian dari pelatih, atau sekedar memenuhi keinginan orang-orang di sekitar anda.
Ini bahan bakar paling murah.
Iming-iming bonus, fasilitas dan gaji digunakan untuk merangsang motivasi, tapi itu baru motivasi paling rendah. Dikagumi dan dihargai banyak orang bisa menjadi motovasi, tapi bukan motivasi terkuat, justru motivasi masih paling rendah levelnya, alias bahan bakar paling murah.
Mengapa? karena apabila hal-hal yang sifatnya eksternal itu hilang, maka hilanglah semangat anda berlatih. Pelatih tidak ada, penghargaan tidak ada, pengakuan tidak ada, orang-orang tidak mendukung, tidak ada gaji atau uang saku, anda tidak semangat, anda berhenti berlatih. selesai. End.
Padahal, dunia olahraga adalah dunia yang keras bukan? anda tidak hanya dipuji-puji tapi juga harus siap dikritik, dicaci maki bahkan dihina. Dan tidak semua atlit dimanjakan oleh fasilitas latihan dan uang saku. Butuh pengorbanan dan perjuangan keras untuk mencapai keberhasilan, yang itu tidak hanya ditentukan semata-mata oleh iming-iming materi atau pujian.
jadi bahan bakar apalagi yang lebih kuat? motivasi apalagi yang lebih baik?
kedua, bahan bakar yang disebut Introjeksi,
Sedikit lebih baik dari bahan bakar sebelumnya, pada tingkat ini anda sudah merasa bersalah kalau tidak berlatih. Rutinitas belatih sudah menjadi kebutuhan, sudah menyatu dengan diri anda, sehingga anda merasa tidak enak atau merasa bersalah kalau tidak melakukannya. Anda bisa tetap berlatih meskipun tanpa pelatih, meskipun tidak digaji, dsb. Karena anda merasa harus melakukannya, kalau nggak, nggak enak di badan. Terasa seperti ada yang kurang, terasa seperti tidak lengkap.
Bolehlah saya katakan ini baru bahan bakar solar. Masih yang agak murah, tapi cukup kuat juga, dan lebih baik daripada yg merek eksternal di atas. setidaknya anda mulai latihan bukan karena faktor eksternal, tapi karena untuk memuaskan rasa "tidak enak" atau "rasa bersalah" yang melanda diri anda.
jadi, apalagi yang lebih baik dari solar ?
Ketiga, bahan bakar yang disebut Identifikasi.

Ketika latihan sudah menyatu dengan diri anda, dan anda melakukannya untuk kebutuhan, dan anda merasa menemukan jati diri anda disitu, anda memiliki motivasi pada tingkat ini. Disini anda berlatih dengan alasan "saya berlatih, karena inilah diri saya, inilah jati diri saya". Tidak hanya anda berlatih secara mandiri, tapi anda juga menyadari ini adalah sebuah tugas yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Anda sudah memiliki arah atau tujuan yang ingin diraih, dan mengatur strategi untuk meraihnya .
Ini baru kelas premium, lumayan bagus untuk jalan kenceng.
Ada yang lebih baik lagi ?
keempat, ada yang namanya Stimulasi.

anda berlatih, bertanding karena anda merasa sangat menikmatinya, senang terlibat di dalamnya. Senang mereguk pengalaman-pengalaman itu, yang memberikan sensasi tak telupakan pada diri anda. Pengalaman ini memberikan sedkit rasa "kecanduan", sehingga anda ingin terus menerus melakukannya, tak peduli anda menang, kalah, atau bagaimana. karena ini menyenangkan, karena ini membuat saya bergairah, karena itu aku ingin terus melakukannya, titik.
Boleh saya menyebut ini kelas pertamax ?
lalu apakah ada yang lebih baik lagi ? masih ada !
kelima, ada motivasi yang namanya Meraih Tujuan, atau Accomplish.
selain anda terbiasa, memiliki jati diri sebagai atlit, perilaku anda bertanggung jawab, dan juga karena senang melakukannya, anda juga punya tujuan pasti tentang apa yang ingin anda raih. Tujuan yang tinggi, cita-cita yang tinggi. Sesuatu, atau prestasi yang luhur yang punya makna mendalam bagi diri anda yang anda berusaha sungguh-sungguh untuk meraihya. tujuan yang tinggi ini bukan hanya posisi tertentu (misalnya peraih medali emas olimpiade), tetapi juga suatu kemampuan (misalnya mencetak rekor) atau suatu karya (misalnya menjadikan basket sebagai olahraga favorit remaja, memasyarakatkan olahraga pencak silat, mengharumkan nama bangsa lewat permainan sepakbola yang fair,dsb ). Tujuan yang tinggi ini bukan hanya mengarahkan anda pada prestasi, tetapi pada sesuatu yang melebihi diri anda sendiri. Sesuatu yang menantang anda untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri anda.
ini kelas formula satu.
tetapi ada satu motivasi lagi yang lebih baik dari ini.
motivasi tertinggi, yang bisa membuat anda terbang tinggi.
Motivasi kelima, adalah motivasi Belajar.

haus akan ilmu, berusaha untuk mengevaluasi dan terus menerus memperbaiki diri, menguasai keterampilan baru, menemukan teknik-teknik dan strategi baru, itu adalah motivasi yang tertinggi. Motivasi ini yang membuat manusia terus menerus berkembang tanpa batas. Motivasi ini yang memastikan seseorang tidak akan menyerah ketika ia gagal, jatuh, atau terhambat. Motivasi ini juga yang membuat seorang atlit kebal terhadap rasa sombong, tinggi hati, atau putus asa menghadapi hambatan apapun. Alih-alih, motivasi ini yang akan terus mengembangkan kemampuannya hingga tingkat yang tidak terduga. Motivasi ini tidak hanya menjamin kemampuan seorang atlit menjadi lebih baik, tetapi juga memeberikan pengaruh yang baik kepada sesamanya.
inilah motivasi tertinggi. Selalu ingin belajar.
merasa tidak pernah cukup, seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk.
jadi, bahan bakar motivasi apa yang anda pakai saat ini ?
silahkan renungi dan anda bisa berganti motivasi setiap saat !
Bdg,12/04
Selasa, 10 April 2012
Bangkit dari kekalahan dan kegagalan
Menang kalah, itu biasa,
semua merasakan.
berjuanglah penuh semangat,
untuk kita semua...
D-Kross (Menang Kalah)
Dalam kompetisi olahraga selalu ada menang kalah. Itu tidak bisa dihindari, itu aturannya, itu kenyataannya. Kompetisi olahraga adalah ajang adu kekuatan, adu kepintaran, adu kecepatan, adu kekompakan, dan sebagainya. hasilnya, ada yang menang, ada yang kalah.
sebagai atlit, anda harus menyadari hal ini.
Sadari kalau pertandingan, perlombaan, adalah tentang hal itu. menang-kalah.
kalau anda tidak siap, maka dipastikan anda akan berkali-kali tercederai baik secara fisik maupun secara psikis.
Suatu kali anda bisa jadi meraih kemenangan, terangkat, dipuji, dikagumi, namun ketika jatuh, mampukah anda bangkit lagi ?
*kemenangan terbesar kita bukanlah pada saat kita meraih kemenangan, tetapi pada saat kita bangkit dari kegagalan* kata Konfusius. Bangkit berdarah-darah lebih berat daripada berlari mencapai posisi puncak dengan semangat masih membara.
Kenyataannya, karaktermu baru teruji bila kau pernah bangkit dari kegagalan.
Bila kau pernah merasakan sakitnya, terhinanya, menderitanya kalah namun sekali lagi kau menatap ke depan untuk berdiri, berjuang, dan maju terus ... itu baru yang namanya kuat !
sebelum bertanding, selalu ingat kalau akan selalu ada yang menang, selalu ada yang kalah.
kalaupun kau kalah, setidak-tidaknya menanglah melawan diri sendiri.
Jangan menuruti kata hatimu yang terus menerus kembali ke momen kalah yang menyakitkan itu,
taklukkan dirimu,
jangan bersikap pengecut dengan terus menerus mencari kambing hitam.
jangan bersikap cengeng dengan meminta perhatian atau dukungan lebih untuk bangkit,
jangan bersikap lemah dengan menyerah hanya karena sekali atau beberapa kali kalah,..
bangkit dan taklukkan dirimu sendiri !!
bangkit dan kuasai dirimu sendiri !
bangkit dan lecut dirimu sendiri, lebih kuat dari sebelumnya !
yang diperlukan hanyalah keputusan tegas dari dasar hatimu sendiri :
berhenti, atau
terus maju.
semua merasakan.
berjuanglah penuh semangat,
untuk kita semua...
D-Kross (Menang Kalah)
Dalam kompetisi olahraga selalu ada menang kalah. Itu tidak bisa dihindari, itu aturannya, itu kenyataannya. Kompetisi olahraga adalah ajang adu kekuatan, adu kepintaran, adu kecepatan, adu kekompakan, dan sebagainya. hasilnya, ada yang menang, ada yang kalah.
sebagai atlit, anda harus menyadari hal ini.
Sadari kalau pertandingan, perlombaan, adalah tentang hal itu. menang-kalah.
kalau anda tidak siap, maka dipastikan anda akan berkali-kali tercederai baik secara fisik maupun secara psikis.
Suatu kali anda bisa jadi meraih kemenangan, terangkat, dipuji, dikagumi, namun ketika jatuh, mampukah anda bangkit lagi ?
*kemenangan terbesar kita bukanlah pada saat kita meraih kemenangan, tetapi pada saat kita bangkit dari kegagalan* kata Konfusius. Bangkit berdarah-darah lebih berat daripada berlari mencapai posisi puncak dengan semangat masih membara.
Kenyataannya, karaktermu baru teruji bila kau pernah bangkit dari kegagalan.
Bila kau pernah merasakan sakitnya, terhinanya, menderitanya kalah namun sekali lagi kau menatap ke depan untuk berdiri, berjuang, dan maju terus ... itu baru yang namanya kuat !
sebelum bertanding, selalu ingat kalau akan selalu ada yang menang, selalu ada yang kalah.
kalaupun kau kalah, setidak-tidaknya menanglah melawan diri sendiri.
Jangan menuruti kata hatimu yang terus menerus kembali ke momen kalah yang menyakitkan itu,
taklukkan dirimu,
jangan bersikap pengecut dengan terus menerus mencari kambing hitam.
jangan bersikap cengeng dengan meminta perhatian atau dukungan lebih untuk bangkit,
jangan bersikap lemah dengan menyerah hanya karena sekali atau beberapa kali kalah,..
bangkit dan taklukkan dirimu sendiri !!
bangkit dan kuasai dirimu sendiri !
bangkit dan lecut dirimu sendiri, lebih kuat dari sebelumnya !
yang diperlukan hanyalah keputusan tegas dari dasar hatimu sendiri :
berhenti, atau
terus maju.
Minggu, 01 April 2012
Menang itu Kebiasaan -- tapi kebiasaan yang seperti apa ?

Winning is not a sometime thing; it's an all time thing.
You don't win once in a while, you don't do things right once in a while, you do them right all the time.
Winning is habit. Unfortunately, so is losing.
You don't win once in a while, you don't do things right once in a while, you do them right all the time.
Winning is habit. Unfortunately, so is losing.
Menang itu bukan sesuatu yang istimewa; tetapi itu sesuatu yang penting.
Kamu tidak menang dengan segera, kamu tidak bertindak benar dengan segera, kamu baru melakukannya dengan benar kalau sudah terbiasa.
Menang itu kebiasaan. Sayangnya, kalah juga begitu.
Vince Lombardi
Seandainya bisa, saya ingin langsung bertanya kepada pak Lombardi, lalu pak, kebiasaan seperti apa yang membuat menang ? Sayangnya jarak dan waktu yang memishkan jadi saya berusaha untuk memahami makna kalimat ini sendiri.
Kenyataannya, memang ada atlet yang terus menerus menang, sementara ada juga atlet yang terus menerus kalah kemudian mereka mengundurkan diri dari olahraga. Atlet yang terus menerus menang ini, dengan cara tertentu mereka mampu menempatkan dirinya dalam kondisi puncak saat pertandingan. Segala kondisi dan situasi seolah-olah selalu mendukung, dan kita menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan. Sebut saja, misalnya dia mendapatkan nomor undian yang menguntungan, berada di liga yang mudah, wasit yang tampaknya mendukung, pelatih yang menyayangi . keluarga yang mensupport, semua itu sangat mendukung pencapaiannya berprestasi. Sebaliknya, mungkin demikian juga dengan mereka yang selalu kalah; segala sesuatunya tampak tidak mendukung, atau penuh kesialan. Wasit berat sebelah, nomor undian yang jelek, cedera atau sakit, pelatih tidak mendukung, dsb, dsb. Jadi, kalau menang itu kebiasaan, dan kalah juga kebiasaan, apa yang membedakan ?
Saya teringat pada salah satu senior saya dahulu yang prestasinya melebihi kita semua. Sebagai atlit yang lebih berpengalaman, saya mengamati tingkah lakunya. Memang benar, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang membedakannya dari atlet lainnya. Salah satunya adalah selalu memepersiapkan segalanya lebih awal. Membawa minum sendiri, baju sendiri, lengkap dengan keperluan P3K sendiri. Bahkan ia juga membawa bantal kecil yang tadinya aku tertawa melihatnya karena hal itu membuatnya terlihat kekanak-kanakan. Ternyata? ketika menunggu giliran bermain, ia santai mendengarkan musik sambil tiduran bersandar di bantal kecilnya. Nyaman sekali, ia selalu berusaha membuat dirinya nyaman dan rileks sebelum bermain. Itu hanya satu kebiasaan kecil, yang bisa jadi membuat perbedaan. Ketika atlet lain menjadi tegang karena sulit beristirahat saat jeda menunggu permainan, senior saya itu santai saja dengan bantalnya. I a tidak pernah kebingungan mencari perlengkapannya bertanding karena semua itu ia siapkan di tas dengan urutan yang sesuai kebiasaannya. Pelatih tidak perlumengingatkan atau memarahinya karena ia selalu lengkap mempersiapkan segalanya secara mandiri. Hanya perbedaan kecil.
Ketika aku masuk pusat pelatihan daerah (pelatda) untuk PON, aku menemukan hal-hal yang lebih menarik. Ada seorang atlit senior (yang akhirnya ia mendapatkan juara I) yang punya kebiasaan selalu bangun lebih pagi dari pelatih dan datang paling pagi ke lapangan, lalu selalu menambah latihan sendiri baik meskipun itu tanpa pelatih. Ia tidak pernah mengeluh tentang latihan, apaun program yang diberikan pelatih selalu dilaksanakannya tanpa banyak mengeluh apalagi protes. Tebak ? dia juara, bahkan 3 kali PON. Ketika atlit lain baru bangun tidur, dia sudah siap di lapangan. ketika atlit lain mengeluh karena kerasnya latihan, dia tidak banyak omong dan tetap berlatih.
Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dimiliki seorang atlet yang menjadikannya juara. Kalau anda beruntung berada berdekatan dengan atlet yang lebih berprestasi, coba amati perilaku yang kecil itu, dan kalau itu bisa kau tiru, tirulah. Mungkin tidak semua perilaku mereka positif, tetapi secara intuitif anda bisa membedakan mana yang perlu ditiru mana yang tidak, bahkan secara terang-terangan bisajadi pelatih mengatakannya secara langsung di depan semua orang. seperti "Coba tiru itu si A,.... dia rajin, bla-bla-bla... " alih-alih mersa tersindir, antipati atau benci, kalau memang si A itu lebih berprestasi, coba saja tiru perilaku itu. Kemenangan tidak datang begitu saja, bukan ?
Sekedar tambahan, lebih baik anda mengamati saja dulu perilakunya, jangan langsung bertanya padanya"apa sih rahasianya jadi juara?" karena, biasanya para juara tidak selalu pintar menjelaskan, atau tidak selalu mau berbagi tips dan trik, atau bahkan tidak menyadari, atau malah, yang anda dengar malah cerita panjang dimana dia sedikit menyombongkan diri,... namun, tentu saja tidak semua juara begitu. Ada diantara mereka yang bersedia berbagi dengan teman-temannya atau junior-juniornya.
Amati dulu, lakukan dulu, baru bertanya.
Selalu ada beda antara mereka yang selalu menang dengan mereka yang selalu kalah.
selamat datang di asa juara !
selamat datang di asa juara !
selamat datang di blog asa juara, blog yang khusus dipersembahkan untuk atlit. Kalau blog-blog lain saya akan berbicara tentang informnasi olahraga secara umum, pengalaman pribadi atau berbagi cerita inspirasi, khusus di blog ini saya hanya mendedikasikannya untuk para atlit saja. Tetapi tentu saja para pelatih juga boleh membacanya, menerapkannya, atau siapa saja yang berminat, atau "tune-in" dalam olahraga. You are all welcome
Dalam blog ini saya akan berbicara seputar psikologi terapan olahraga, suatu ilmu yang saya merasa beruntung bisa memperolehnya baik secara akademis maupun melalui pengalaman langsung di lapangan,... tetapi tentu saja saya akan menggunakan bahasa sederhana. Seperti katanya pak Andi Arsana (madeandi.com), sesuatu yang baik tidak harus kelihatan sulit.
para atlit, yang sedang berjuang meraih cita-cita, saya ingin kalian tahu bahwa ada yang mendukung anda di luar sana, meskipun dengan cara-cara yang sangat terbatas. Dan inilah cara saya untuk membantu kalian,... blogging.
Ijinkan saya menjadi bagian dari perjuangan kalian.
Setiap hari anda adalah juara,
yakini itu.
Langganan:
Komentar (Atom)
