Kata orang bijak, untuk mencapai keberhasilan harus bekerja keras.Kata tokoh-tokoh olahraga, untuk mencapai kemenangan harus berlatih keras.
Kalimat diatas tidak asing sama sekali, malah mungkin kita sudah berkali-kali mendengar.
Pelatih, manajer, pengurus, senior, mantan atlit (termasuk saya) sering bilang begitu.
Tetapi latihan anda sebenarnya sudah cukup keras atau belum ?
pasti ada pikiran seperti itu kan, hehehe...
bagaimana caranya mengira-ngira apakah latihan anda sudah cukup keras atau belum untuk juara ?
saya ada cara, yang objektif maupun yang subjektif.
cara objektif adalah menggunakan ukuran-ukuran nyata. Ini yang mudah.
pertama, untuk menguasai suatu teknik, dalam penelitian tentang "deliberate practice", yaitu penelitian tentang lamanya latihan yang harus dilakukan untuk menjadi seorang jenius dalam bidang apa saja. Ternyata untuk menjadi unggul atau jenius dalam suatu bidang, setidaknya anda harus melewati minimal 10.000 jam latihan.
(kalau tidak percaya silahkan beli buku Outliers di Gramedia, ditulis oleh Malcolm Gladwell, ada bab yang judulnya Kaidah 10.000 jam dan kesuksesan Beatles, jangan khawatir itu buku dalam bahasa Indonesia kok).
kedua, anda bisa secara sadar membandingkan catatan prestasi diri sendiri dengan rekan rekan atau lawan anda. Ini akan sangat mudah bila yang anda lakukan adalah cabang olahraga terukur. Di Nasional yang juara pertama berapa catatan waktunya, berapa skornya, nah, catatan waktu saya, catatan skor saya masih berapa? ada di posisi mana saya sekarang ini ? lalu apa yang harus saya lakukan untuk mendekati skor itu ?
ketiga, anda bisa tanya pelatih. ngobrol, minta evaluasi objektif. apa kekuranganmu, apa keunggulanmu, lalu apa yang harus diperbaiki atau ditambah. Atau, anda bisa juga minta sumbangsaran dari sumber-su,ber lain, misalnya mantan atlet, senior, rekan yang lebih berprestasi, dsb,....
tiga cara diatas masih cara yang objektif, bro.
Lalu ada cara yang subjektif, untuk mengukur apakah latihan anda sudah cukup benar dan keras untuk menjadikan anda juara atau tidak.
caranya adalah, luangkan waktu pada malam hari untuk menutup mata sejenak di tempat yang tenang. Kalau punya, anda bisa pasang musik yang membuat santai, misalnya musik klasik (pokoknya yang tanpa lirik).
Lalu bayangkan anda melakukan suatu gerakan dalam cabang olahraga anda. Bayangkan secara detil, sampai ke gerakan otot-otot, bahkan gerakan yang paling detil sekalipun. bayangkan sejelas mungkin.
kalau anda bisa membayangkan dengan jelas, anda berada di jalan yang benar. Latihan teknik yang anda lakukan sudah mulai menyatu dengan diri anda, tinggal meningkatkannya dan menambah pengetahuan tentang strategi untuk mencapai prestasi yang diinginkan.
Tetapi kalau anda belum bisa membayangkan dengan jelas dan detil, atau bayangan itu rasanya seperti berkelebat dengan cepat, artinya latihanmu masih kurang, bro !
Atau kalau bayangan itu menunjukkan teknik yang masih gagal,....artinya latihanmu masih kurang. Misalnya bila kamu membayangkan melakukan lemparan 3-poin dalam basket dan yang terjadi adalah--dalam pikiranmu--tembakan itu meleset tidak masuk keranjang, artinya latihan 3-poinmu masih kurang !! Belum benar, kurang repetisi (kurang diulang-ulang).
Atau kalau anda sulit sekali membayangkannya, berarti latihanmu masih sangat kurang ! Boro-boro mikir teknik, bisa jadi anda juga sulit berkonsentrasi dalam latihan, sehingga teknik itu hanya anda gerakkan tanpa kesadaran, sehingga tidak tertanam dalam otak dan otot.
Apa yang dibayangkan dalam pikiran manusia selalu konsisten dengan dunia nyata. Semakin terasah sebuah teknik, semakin mudah, semakin jelas dan semakin detil bayangan dalam pikiran. Sebaliknya, teknik yang kurang dilatih akan sulit untuk dibayangkan secara jelas.
Anda bisa melakukan visualisasi atau latihan imajiner melakukan ini itu, teknik ini itu, tapi itu hanya akan menjadi bayangan atau latihan yang tak berguna kalau di dunia nyata latihanmu belum cukup membentuk teknik.
Jadi kalau belum bisa membayangkan dengan jelas, artinya latihan masih kurang ! latihan yang kamu lakukan belum termasuk keras.
Latihanlah dengan keras, ulang-ulang teknik sampai kamu bisa membayangkannya dengan jelas dalam mata tertutup.
lakukan itu dulu, sebelum membayangkan meraih juara.
bukankah keberhasilan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar