Saya pernah terlibat suatu obrolan dengan rekan-rekan dosen. Salah satu dosen muda menceritakan bertapa ia ngefans dengan aktor-aktor asal k***a yang ganteng-ganteng. Tiba-tiba salah satu teman saya yang lain menukas: "Halah seganteng-gantengnya dia pun kalau kentut tetap bau !". Tawa kami pun pecah bersamaan.
Maaf, bukannya saya meremehkan aktor-aktor tersebut (maaf ya kalau ada yang tersinggung), tetapi guyonan itu sebenarnya menyiratkan bahwa seganteng-gantengnya, secantik-cantiknya seseorang, mereka tetaplah manusia. Manusia biasa yang makan, minum, ke toilet, dan kadang-kadang juga melakukan hal-hal yang tidak jauh beda dengan kita.
Inilah tips yang bisa kamu gunakan bila merasa takut menghadapi lawan. Seringkali kita merasa takut pada lawan karena badannya lebih besar, tekniknya lebih bagus, jam terbangnya lebih tinggi, posturnya lebih tinggi, dan sebagainya. Padahal, sebaik-baiknya lawanmu dia manusia juga, kenapa harus takut?
Ada nasihat seperti ini; lha wong sama-sama makan nasi, kenapa harus takut. Lho, itu kalau sama-sama makan nasi, kalau menghadapi dari luar negeri yang makan roti bagaimana? Jadi bisa diganti juga begini: lha wong sama-sama manusia, kenapa harus takut? Lawanmu juga pergi ke toilet, juga ngupil, juga kentut, dan mungkin dulu juga sering dimarahi pelatihnya, dan juga pasti pernah gagal, dan pasti pernah menangis waktu TK, dan juga pasti pernah melakukan hal-hal konyol yang tidak jauh beda dengan yang kamu lakukan, lalu kenapa harus takut ?
kalau masih merasa takut, bayangkan saja seperti ini: Lawanmu sedang antri di depan toilet, sakit perut. Tetapi, pintu toiletnya tidak membuka-buka. Lawanmu mondar-mandir menunggu sambil meringis memegangi perutnya, lalu menggedor-gedor pintu. Ternyata saat pintu dibuka, yang keluar adalah seorang wasit atau juri yang tampangnya sangar.... dengan membayangkan ini, image lawanmu bisa hancur berantakan, minimal kamu bisa lebih rileks dan menerima bahwa lawanmu juga manusia.
Intinya, kalau takut terhadap lawan, jangan lupakan fakta bahwa lawanmu juga manusia. Kalau masih sulit, bayangkan hal-hal lucu seperti diatas saja. supaya imejmu tentang lawanmu itu hancur berantakan,..... tapi jangan sampai senyum-senyum sendiri, ya... dan jangan dilakukan sejenak sebelum bertanding, karena bisa merusak konsentrasi. Lakukan semalam sebelumnya, atau beberapa jam sebelum bertanding. Kalau kamu tidak merasa takut, bersyukurlah, teknik diatas tidak perlu dilakukan,...
Minggu, 24 Juni 2012
“Emangnya Kamu Siapa ?” – Atlit harus punya identitas diri
"Emangnya lo siapa?"
Kalau mendengar komentar seperti itu dari
orang lain, bayangkan bagaimana perasaan anda ? Merasa diremehkan ? Terhina?
Marah? Atau alih-alih anda merasa rendah diri, kemudian menghindar ? Atau
tiba-tiba merasa tidak percaya diri?
Pertanyaan “Emangnya kamu siapa” sebenarnya sering terjadi
ketika seorang atlit baru berlatih atau bertanding. Contohnya saat awal berlatih.
Pasti ada cerita dimana anda yang masih atlit baru diplonco oleh atlit-atlit
yang lebih senior. Atau, seorang atlit pemula yang diremehkan olah lawan karena
belum punya nama. Menyebalkan bukan kalau menemui situasi tersebut ? Tetapi yang lebih menyedihkan lagi, kalau kamu malah merasa ragu, "oh ya, emangnya gue siapa ya?"... lalu menjadi rendah diri.
Oleh karena itu, perlu bagi seorang atlit untuk menunjukkan
dirinya “Ini lho saya!”. Tentu saja
tidak dengan membusungkan dada di depan rekan-rekan setim atau lawan, tapi
melalui pembuktian kemampuan, ketekunan berlatih, berperilaku baik layaknya
seorang olahragawan dan juga menghormati
orang lain. Karena itu, atlit-atlit muda yang masih baru sebelumnya harus
punya identitas yang jelas, siapa dirinya. Siapa orang yang mengatakan “saya”
itu. Ini bukan tentang nama atau identitas yang ada di KTP, tetapi tentang “orang
seperti apa saya itu”.
tapi, bagaimana caranya mengetahui jati diri, atau memiliki identitas diri yang baik untuk berprestasi?
Nah, sekarang jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini di
selembar kertas;
·
- Apa nama lengkapmu ?
- Apa sifat-sifat baik yang kamu miliki?
- Apa kekurangan –kekurangan yang kamu miliki ?
- Apa yang sering dikatakan pelatih tentang kamu ?
- Apa yang sering dikatakan rekan-rekanmu tentang kamu ?
- Apa keunggulanmu dalam olahraga menurut pelatih/rekan-rekan setim ?
- Apa teknik yang paling kamu kuasai ?
- Kalau mendengar namamu, apa yang dipikirkan lawanmu tentang kamu ?
- Kalau mendengar namamu, bagaimana sikap lawan-lawanmu ? Apakah mereka meremehkan kamu, memperhitungkanmu sebagai lawan seimbang, atau malah takut padamu?
Sekarang, jawab
pertanyaan berikut ini di selembar kertas, di bawah jawaban pertanyaan
sebelumnya.
·
- Apa nama lengkapmu ?
- Apa sifat-sifat baik yang ingin kamu miliki?
- Apa kekurangan –kekurangan yang ingin kamu perbaiki?
- Apa yang ingin kamu dengar dari pelatih tentang kamu ?
- Apa yang ingin kamu dengar dari rekan-rekanmu tentang kamu ?
- Apa keunggulanmu dalam olahraga ini ?
- Apa teknik yang ingin kamu kuasai ?
- Kalau mendengar namamu, kamu menginginkan lawanmu berpikir bagaimana ?
- Kalau bertemu denganmu, kamu menginginkan lawanmu bersikap seperti apa ?
Sekarang bandingkan jawaban-jawaban pertanyaan bagian pertama
dan jawaban-jawaban pertanyaan bagian kedua.
Apakah banyak bedanya? Kalau baganya bedanya, berarti masih
ada ketidaksesuaian antara jati dirimu dengan kenyataan yang kamu alami
sehari-hari. Kamu masih harus melakukan berbagai usaha untuk membuatnya sesuai.
Berlatih lebih tekun, berlatih lebih rajin, dan sebagainya. Kamu harus lebih percaya diri untuk menunjukkan kemampuanmu. Kalau tidak, bagaimana mereka tahu kemampuanmu yang sebenarnya? Kamu juga harus memberianikan diri berdialog dengan pelatih untuk meminta saran-saran teknis. Kalau tidak, bagaimana mereka bisa menolongmu? Kalau ketidaksesuaian
ini sangat besar, kamu akan lebih mudah mengalami stress, karena kenyataan
tidak sesuai dengan harapan.
Kalau perbedaanya
tidak terlalu besar, jati dirimu sudah mulai jelas. Tetapi, tidak boleh cepat
puas dahulu. Di atas langit ada langit, kamu harus terus tekun berlatih untuk
mencapai prestasi yang lebih tinggi. Tetapi, kamu sudah punya modal identitas
diri yang cukup baik untuk menapaki perjalanan sebagai atlit.
Jadi, jangan sampai anda merasa terintimidasi dengan
pertanyaan “Emangnya lo siapa?”. Jawab dengan perbuatan, jawab dengan prestasi
! Buat lawanmu memahami bahwa namamu adalah nama yang tidak boleh diremehkan.
Langganan:
Komentar (Atom)