Minggu, 01 April 2012

Menang itu Kebiasaan -- tapi kebiasaan yang seperti apa ?


Winning is not a sometime thing; it's an all time thing.
You don't win once in a while, you don't do things right once in a while, you do them right all the time.
Winning is habit. Unfortunately, so is losing.


Menang itu bukan sesuatu yang istimewa; tetapi itu sesuatu yang penting.
Kamu tidak menang dengan segera, kamu tidak bertindak benar dengan segera, kamu baru melakukannya dengan benar kalau sudah terbiasa.
Menang itu kebiasaan. Sayangnya, kalah juga begitu.

Vince Lombardi


Seandainya bisa, saya ingin langsung bertanya kepada pak Lombardi, lalu pak, kebiasaan seperti apa yang membuat menang ? Sayangnya jarak dan waktu yang memishkan jadi saya berusaha untuk memahami makna kalimat ini sendiri.

Kenyataannya, memang ada atlet yang terus menerus menang, sementara ada juga atlet yang terus menerus kalah kemudian mereka mengundurkan diri dari olahraga. Atlet yang terus menerus menang ini, dengan cara tertentu mereka mampu menempatkan dirinya dalam kondisi puncak saat pertandingan. Segala kondisi dan situasi seolah-olah selalu mendukung, dan kita menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan. Sebut saja, misalnya dia mendapatkan nomor undian yang menguntungan, berada di liga yang mudah, wasit yang tampaknya mendukung, pelatih yang menyayangi . keluarga yang mensupport, semua itu sangat mendukung pencapaiannya berprestasi. Sebaliknya, mungkin demikian juga dengan mereka yang selalu kalah; segala sesuatunya tampak tidak mendukung, atau penuh kesialan. Wasit berat sebelah, nomor undian yang jelek, cedera atau sakit, pelatih tidak mendukung, dsb, dsb. Jadi, kalau menang itu kebiasaan, dan kalah juga kebiasaan, apa yang membedakan ?

Saya teringat pada salah satu senior saya dahulu yang prestasinya melebihi kita semua. Sebagai atlit yang lebih berpengalaman, saya mengamati tingkah lakunya. Memang benar, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang membedakannya dari atlet lainnya. Salah satunya adalah selalu memepersiapkan segalanya lebih awal. Membawa minum sendiri, baju sendiri, lengkap dengan keperluan P3K sendiri. Bahkan ia juga membawa bantal kecil yang tadinya aku tertawa melihatnya karena hal itu membuatnya terlihat kekanak-kanakan. Ternyata? ketika menunggu giliran bermain, ia santai mendengarkan musik sambil tiduran bersandar di bantal kecilnya. Nyaman sekali, ia selalu berusaha membuat dirinya nyaman dan rileks sebelum bermain. Itu hanya satu kebiasaan kecil, yang bisa jadi membuat perbedaan. Ketika atlet lain menjadi tegang karena sulit beristirahat saat jeda menunggu permainan, senior saya itu santai saja dengan bantalnya. I a tidak pernah kebingungan mencari perlengkapannya bertanding karena semua itu ia siapkan di tas dengan urutan yang sesuai kebiasaannya. Pelatih tidak perlumengingatkan atau memarahinya karena ia selalu lengkap mempersiapkan segalanya secara mandiri. Hanya perbedaan kecil.

Ketika aku masuk pusat pelatihan daerah (pelatda) untuk PON, aku menemukan hal-hal yang lebih menarik. Ada seorang atlit senior (yang akhirnya ia mendapatkan juara I) yang punya kebiasaan selalu bangun lebih pagi dari pelatih dan datang paling pagi ke lapangan, lalu selalu menambah latihan sendiri baik meskipun itu tanpa pelatih. Ia tidak pernah mengeluh tentang latihan, apaun program yang diberikan pelatih selalu dilaksanakannya tanpa banyak mengeluh apalagi protes. Tebak ? dia juara, bahkan 3 kali PON. Ketika atlit lain baru bangun tidur, dia sudah siap di lapangan. ketika atlit lain mengeluh karena kerasnya latihan, dia tidak banyak omong dan tetap berlatih.

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dimiliki seorang atlet yang menjadikannya juara. Kalau anda beruntung berada berdekatan dengan atlet yang lebih berprestasi, coba amati perilaku yang kecil itu, dan kalau itu bisa kau tiru, tirulah. Mungkin tidak semua perilaku mereka positif, tetapi secara intuitif anda bisa membedakan mana yang perlu ditiru mana yang tidak, bahkan secara terang-terangan bisajadi pelatih mengatakannya secara langsung di depan semua orang. seperti "Coba tiru itu si A,.... dia rajin, bla-bla-bla... " alih-alih mersa tersindir, antipati atau benci, kalau memang si A itu lebih berprestasi, coba saja tiru perilaku itu. Kemenangan tidak datang begitu saja, bukan ?

Sekedar tambahan, lebih baik anda mengamati saja dulu perilakunya, jangan langsung bertanya padanya"apa sih rahasianya jadi juara?" karena, biasanya para juara tidak selalu pintar menjelaskan, atau tidak selalu mau berbagi tips dan trik, atau bahkan tidak menyadari, atau malah, yang anda dengar malah cerita panjang dimana dia sedikit menyombongkan diri,... namun, tentu saja tidak semua juara begitu. Ada diantara mereka yang bersedia berbagi dengan teman-temannya atau junior-juniornya.

Amati dulu, lakukan dulu, baru bertanya.
Selalu ada beda antara mereka yang selalu menang dengan mereka yang selalu kalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar